OPINI : Menanggapi Kabar Baik dari IMF

Jakarta, FreedomNews - Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan 3,2% pada 2023, diproyeksikan berlanjut pada kecepatan yang sama pada 2024 dan 2025. Itulah pernyataan resmi Dana Moneter Internasional (IMF) yang disampaikan oleh kepala ekonomnya, Pierre-Olivier Gourinchas, dalam konferensi pers di Washington, DC, Amerika Serikat, Selasa,16 April 2024.

Meskipun demikian, proyeksi pertumbuhan global pada 2024 dan 2025 tersebut berada di bawah rata-rata tahunan historis (2000—2019) sebesar 3,8%, yang mencerminkan kebijakan moneter yang ketat dan penarikan dukungan fiskal serta pertumbuhan produktivitas yang mendasarinya yang rendah.

Aktivitas ekonomi menunjukkan ketahanan yang mengejutkan dengan inflasi yang mengarah ke target. Meskipun bank-bank sentral negara maju menaikkan suku bunga acuan secara signifikan, perekonomian global mampu tumbuh stabil, didukung oleh perkembangan pasokan yang baik pascapandemi Covid-19. Ketika pertumbuhan global diperkirakan konstan pada level 3,2% untuk kurun waktu 2023 hingga 2025, ekspektasi inflasi utama global diperkirakan turun dari rata-rata tahunan 6,8% pada 2023 menjadi 5,9% pada 2024 dan 4,5% pada 2025.

Risiko terhadap lanskap ekonomi global telah berkurang sejak Oktober 2023, yang mengarah pada distribusi hasil yang seimbang secara luas di sekitar proyeksi dasar untuk pertumbuhan global, dari kemiringan penurunan yang jelas pada World Economic Outlook (WEO) April 2023 dan WEO Oktober 2023. Risiko terhadap prospek seimbang tetapi lebih condong ke sisi negatifnya dalam waktu dekat. Pada sisi negatifnya, lonjakan harga baru dari ketegangan geopolitik, bersama dengan inflasi inti yang persisten dapat meningkatkan ekspektasi suku bunga acuan dan menurunkan nilai aset.

Suku bunga acuan tinggi dapat memiliki efek pendinginan yang lebih besar dari yang diharapkan, tetapi pada sisi positifnya, kebijakan fiskal dapat berubah menjadi lebih ekspansif untuk mengkompensasi pengetatan kebijakan suku bunga bank sentral, meskipun dengan risiko penyesuaian yang mahal nantinya.

Selain itu, inflasi bisa turun lebih cepat, memungkinkan bank-bank sentral memajukan rencana pelonggaran. Juga, kemajuan dalam kecerdasan buatan (AI) dan reformasi struktural yang tepat waktu memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas. Dengan tekanan inflasi mereda lebih cepat dari yang diperkirakan di banyak negara, kini risiko terhadap prospek inflasi juga secara luas seimbang.

Maka, prioritasnya adalah memastikan inflasi menyatu ke level target secara lebih pasti. Pada saat yang sama, perhatian lebih harus diberikan untuk membangun kembali penyangga fiskal guna menjaga kemungkinan adanya guncangan, memberi ruang bagi investasi prioritas, dan memastikan keberlanjutan utang yang sehat dan berhati-hati.

Akhirnya, IMF menekankan perlunya penguatan kerja sama multilateral untuk membuat kemajuan pada tujuan bersama sekaligus untuk mengurangi dampak fragmentasi geoekonomi.

ASIA PASIFIK

Paralel dengan rilis di atas, IMF juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Pasifik menjadi 4,5% pada 2024. Dalam laporan Regional Economic Outlook Asia and Pacific terbaru Selasa (30/4), proyeksi ekonomi Asia Pasifik pada April 2024 mengalami kenaikan 0,3% dibandingkan proyeksi Oktober 2023. IMF menilai prospek perekonomian Asia dan Pasifik makin cerah. Namun, perekonomian kawasan diperkirakan melambat dibandingkan perkiraan sebelumnya karena tekanan inflasi yang menurun.

Kawasan Asia Pasifik secara inheren tetap dinamis dan menyumbang sekitar 60% dari pertumbuhan global. Adapun, pertumbuhan kawasan ini di 2025 tidak berubah dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 4,3%. Pada 2023 lalu, pertumbuhan tercatat sebesar 5%. Revisi ini mencerminkan permintaan di China yang diperkirakan memberikan dukungan terhadap stimulus kebijakan.

India, dengan investasi publik yang menjadi pendorong penting, menjadikan negara ini dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat di dunia. Kemudian, di kala kondisi eksternal masih belum kuat, IMF menilai konsumsi swasta yang kuat tetap menjadi pendorong utama di negara-negara berkembang lainnya di Asia. Berikutnya, disinflasi global dan prospek suku bunga bank sentral yang lebih rendah telah menyebabkan kemungkinan terjadinya soft landing. Hal ini kemudian membuat risiko-risiko terhadap prospek jangka pendek seimbang.

Dampak dari pengetatan moneter yang terjadi sebelumnya, penurunan harga komoditas dan barang secara global serta meredanya gangguan rantai pasokan setelah pandemi, semuanya berkontribusi terhadap hasil tersebut.Meskipun demikian, disinflasi telah berkembang di seluruh wilayah Asia Pasifik, meskipun dengan kecepatan yang berbeda. Di beberapa negara, disinflasi masih berada di atas target bank sentralnya. Di negara lain, disinflasi berada pada atau mendekati target bank sentralnya. Sementara di beberapa negara lain justru terdapat risiko deflasi.

Lebih rinci, beberapa negara maju terutama Selandia Baru, Australia dan Korea Selatan, dibekap oleh inflasi sektor jasa yang terus menerus berada di atas target. Sebaliknya, di Thailand dan China, harga-harga konsumen telah turun. Inflasi di luar makanan dan energi masih rendah, yang di China mencerminkan masalah-masalah warisan dari pandemi Covid-19 dan koreksi sektor properti. Di tempat lain, inflasi mendekati target.

Meskipun proyeksi pertumbuhan ekonomi dinaikkan, IMF mencatat masih ada risiko-risiko yang mengintai kawasan Asia Pasifik. Salah satunya, penurunan jangka panjang sektor properti di China, yang akan melemahkan sisi permintaan dan memperpanjang deflasi. Tantangan-tantangan lain termasuk meningkatnya defisit fiskal dan risiko-risiko terhadap perdagangan akibat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

ASIA TUMBUH BAIK

Khusus untuk kawasan Asia, IMF telah menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonominya untuk 2024 sebesar 4,5% atau naik 0,3% dari proyeksi 6 bulan sebelumnya. Kenaikan proyeksi disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penurunan tekanan inflasi dan peningkatan kebijakan stimulus ekonomi di China.

IMF juga mencatat pertumbuhan ekonomi India tetap yang terkuat, dengan proyek-proyek investasi publik menjadi pendorong utama. Di sisi lain, IMF juga menyoroti risiko terbesar bagi ekonomi Asia, yaitu koreksi berkepanjangan di sektor properti Tiongkok. Hal ini dapat melemahkan sisi permintaan dan meningkatkan peluang deflasi berkepanjangan, serta memberikan dampak negatif pada ekonomi negara lain yang terkoneksi dengan China.

Maka, respons kebijakan dari pemerintah China sangat penting untuk mengurangi risiko ini. Pemerintah China amat membutuhkan paket kebijakan stimulus yang mampu mempercepat keluarnya pengembang properti yang tidak layak, mendorong penyelesaian proyek perumahan, dan mengelola risiko utang pemerintah daerah. Stimulus fiskal China pada Oktober dan Maret lalu telah membantu mengurangi dampak dari penurunan aktivitas manufaktur dan layanan yang lambat.

IMF pun mencatat bahwa pengetatan kebijakan moneter, harga komoditas yang lebih rendah, dan penurunan gangguan rantai pasokan telah membantu menurunkan inflasi di Asia, meskipun permintaan terus meningkat karena daya beli masih terjaga. Hal ini memberikan dukungan bagi negara-negara lain di kawasan Asia untuk terus mendorong pertumbuhan ekonominya. Dengan proyeksi ini, IMF berharap pemerintah dan pembuat kebijakan di Asia harus lebih fokus pada upaya menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan mengurangi risiko yang mungkin muncul mendadak, khususnya dari sektor properti di China.

Yang menarik, IMF juga mengingatkan agar negara-negara di Asia menghindari pengambilan keputusan yang terlalu bergantung pada kebijakan The Fed. Bank-bank sentral di Asia harus fokus pada kondisi domestik dan menghindari pengambilan keputusan yang terlalu bergantung pada jalur suku bunga AS.

Rasionalitasnya adalah bahwa inflasi di Asia terus mengalami penurunan meskipun pertumbuhan permintaan tetap menguat. Dampak kebijakan moneter ketat, menurunnya harga komoditas dan barang secara global yang terjadi, serta meredanya gangguan rantai pasokan global, telah berkontribusi melandaikan inflasi.

Menimbang data inflasi tersebut, IMF menyarankan agar setiap negara perlu lebih independen dalam menimbang kondisi yang variatif di kawasan. Di negara-negara dengan inflasi tinggi, bank sentral perlu mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Lalu, di negara-negara dengan inflasi inti berada atau mendekati target bank sentral, ruang untuk menurunkan suku bunga dapat muncul dalam waktu tidak terlalu lama. Sebaliknya, ketika inflasi terlalu rendah, sikap akomodatif diperlukan.

Walaupun mengikuti “guidance” kebijakan The Fed dapat membatasi volatilitas nilai tukar di negara-negara berkembang Asia, tetapi hal ini berisiko membuat bank sentral tertinggal atau bergerak lebih cepat dari kurva, dan mengacaukan ekspektasi inflasi ke depannya. Sebagai catatan, Bank Indonesia (BI) pada 24 April lalu telah menaikkan suku bunga acuan untuk menahan kejatuhan (depresiasi tajam) mata uangnya, yakni rupiah, berkisar 5% dari awal tahun hingga April lalu, lantaran didera oleh penguatan dolar AS.

IMF mencatat negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini adalah salah satu dari banyak negara di kawasan yang mengalami depresiasi mata uang karena prospek penurunan suku bunga The Fed yang makin berkurang. Yang meningkatkan optimisme adalah IMF tidak mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan tetap di level 5% untuk tahun ini dan terus membaik ke 5,1% untuk tahun depan. Di tengah transisi pemerintahan di penghujung tahun ini, proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh IMF tersebut terbilang wajar dan logis.(dtf/opin)